Surat Terbuka untuk Ibu Negara Suriah, Asma Al-Assad

5091

Dear Asma,

Beberapa hari yang lalu, aku melihat sebuah foto tua dari sepasang anak-anak yang bermain-main di kolam renang di kebun belakang sebuah rumah pinggiran kota tua di Inggris. Itu adalah hari musim panas di tahun 1980an dan masa kecil yang memancarkan kegembiraan dan kebahagiaan dari foto itu. Anak-anak bermain, menunjukkan kegirangan dan kenakalan, bisa membuat seseorang tersenyum melihatnya karena terpesona akan keindahan dan kegembiraan di masa kecil.

Foto ini mengungkapkan saat kegembiraan yang tak terkendali, membuatku tersenyum karena semua alasan di atas. Dan kemudian aku ingin menangis, karena gadis kecil di dalam foto itu adalah engkau duhai ibu negara, Asma.

Anda jelas memiliki sesuatu yang sekarang ditolak oleh anak-anak di Ghouta timur dan ratusan lainnya yang ditahan di ruang bawah tanah penyiksaan dari suami Anda. Anda memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, masa kecil yang manis dan tidak berdosa dimana Anda dapat menikmati semua kesenangan tanpa rasa takut dan rintangan.

Sudahkah Anda turun ke “Neraka” sehingga Anda tidak ingat lagi hari itu di kebun belakang rumah Anda di West Acton, pinggiran kota London Barat, sekitar seperlima dari ukuran Ghouta Timur? Atau, seperti foto profil menawan anda di tahun 2011 di majalah mode Vogue, apakah kenangan akan ketidaktahuan masa kecil anda telah benar-benar terhapus?

Sebagai istri diktator Suriah Bashar Al-Assad, saya penasaran dengan sikap bagaimana Anda bisa melihat kembali masa kecil Anda sendiri saat bersorak-sorai dengan pembantaian begitu banyak orang lain, apalagi sebagian besar anak-anak tak berdosa?

Suami anda adalah laki-laki dengan darah di tangannya; Rezimnya telah membunuh ratusan ribu orang Suriah, terutama warga sipil yang tidak berdosa dan termasuk banyak anak dan ibu mereka. Masa kecil mereka – tidak seperti Anda, duhai ibu negara, Asma. Masa kecil mereka telah dicuri dengan cara yang paling kejam.

Ayahmu, kala itu, adalah ahli bedah jantung terkemuka di London yang telah mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan orang lain, sangat berbeda dengan pria yang Anda pilih untuk dinikahi, yang disibukkan dengan menghancurkan jutaan kehidupan lainnya.

Sayangnya, kami sudah tahu bahwa Anda sangat senang ketika terjadi pembantaian, penghancuran, pengeboman di Suriah. Kami sangat berterima kasih kepada mereka yang membocorkan email Anda karena mengungkapkan lebih banyak tentang karakter dan hubungan Anda dengan suami Anda.

Tidak seperti dirimu ketika masih kecil di dalam foto itu. Anda sekarang bukan lagi penonton yang tidak berdosa. Engkau Mawar “Rose in the Desert” yang mekar begitu disanjung oleh Majalah Vogue kala itu, namun sekarang Anda telah berubah menjadi ibu negara Jahannam.

Berbicara dengan logat London baratmu yang kental di TV 24 Channel pada tahun 2016, Anda berbicara tentang “kesedihan dan duka” yang disebabkan oleh perang yang dilakukan suami Anda terhadap bangsanya sendiri tujuh tahun yang lalu.

Anda menggunakan kata-kata kami dan menyuarakan suara hati kami sehingga mengesankan bahwa anda merasakan penderitaan kami yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, pada saat Anda memberikan pernyataan itu, suami Anda melepaskan bom curah kepada penduduk sipil Suriah.

Hari ini, lebih banyak  lagi bom-bom yang penuh kebencian dijatuhkan kepada rumah sakit dan rumah penduduk sipil di Ghouta Timur. Anak-anak di sana selama tujuh tahun terakhir tidak mengenal apa-apa selain suara tembakan; teror rudal memukul rumah mereka; kepanikan yang disebabkan oleh serangan kimia; dan ketakutan akan bom curah yang mematikan itu.

Hari ini, pasukan suami Anda melancarkan serangan darat dan udara ke Ghouta Timur hanya beberapa jam setelah Dewan Keamanan PBB memilih dengan suara bulat untuk mendukung gencatan senjata 30 hari.

Saat saya menulis surat terbuka ini kepada Anda, ada laporan bahwa rezim -di mana Anda berperan- sedang memerangi kelompok oposisi di beberapa wilayah di Ghouta Timur, tapi tahukah anda bahwasanya yang diperangi oleh suami anda adalah warga sipil yang telah terblokade di wilayah tersebut?

Tolong ibu Asma, pikirkan anak-anak yang terjebak di dalam Ghouta Timur. Tidak satu pun dari mereka, anak-anak tak berdosa pernah mengalami masa kecil bahagia seperti Anda. Memang, semua telah dirampok dari masa kecil mereka dan kemungkinan akan terus begitu adanya.

Anda mungkin ingat ketika anda belajar bahasa Prancis dan belajar di King’s College di London sebelum bekerja sebagai bankir investasi di New York? Setelah bertemu dengan Bashar Al-Assad saat dia menjadi dokter mata di London, Anda bertemu lagi pada tahun 2000 dan menikah setelah dia menjadi Presiden setelah kematian ayahnya.

Hari ini, percaya atau tidak, hanya sedikit yang menerima bahwa Anda tidak tahu apa yang terjadi di bawah rezim suami Anda. Tinggal di Damaskus, seperti yang Anda lakukan, Anda pasti buta dan tuli untuk tidak melihat dan mendengar serangan bom dan asap hitam yang mengepul dari pinggiran kota Damaskus.

Anda terus menikmati pesta mewah Anda di Damaskus sementara jutaan warga anda hidup dalam kelaparan dan ketakutan. Fatwa mungkin telah dikeluarkan yang memungkinkan mereka untuk memakan kucing, anjing dan hewan lainnya yang pernah dianggap haram, hanya agar bisa bertahan hidup; Apa yang haram sekarang telah dibuat halal bagi mereka karena begitu sulitnya keadaan mereka.

Istana kepresidenan megar di Gunung Mezzeh di barat kota Damaskus, telah menjadi istana dimana Anda dan ketiga anak-anak anda tinggal dan dijaga ketat. Ya, Asma, Anda begitu menjaga anak-anak Anda tetap aman dan itu memang adalah tugas Anda sebagai seorang ibu, sama seperti ibu Anda membuat Anda aman dan selalu melindungi Anda selama masa kecil Anda di London.

Wanita-wanita di Suriah juga berhak mendapatkan persamaan hak dalam hal ini, karena ibu-ibu yang ingin membesarkan anak-anak mereka dengan aman dan memberi mereka masa kecil yang juga dapat mereka nikmati.

Sudahkah Anda berkelana begitu jauh menyusuri jalan setapak ke “neraka” di wilayah ini sehingga Anda tidak dapat mengingat kembali kenangan masa kecil anda? Anak-anak di Suriah telah cukup menderita di tangan rezim brutal suami Anda dan dukungan Anda yang terus berlanjut kepada monster hidup ini.

Jika masih ada satu “ons” kemanusiaan tersisa di dalam jiwamu duhai ibu negara, Asma. Tolong bicaralah dan tolong hentikan pembunuhan dan pembantaian bangsamu dan anak-anak mereka oleh suamimu. Ingatlah kepolosan anak yang manis ketika bermain di kolam ketika kecil dulu, dan kemudian lihatlah di cermin di balik rambut Anda. Siapa atau apakah yang Anda lihat? (DH/MTD)

Oleh : Yvonne Ridley, (Penulis Inggris, Analisis Politik Timur Tengah, Asia dan Global War on Terror)

Sumber : Middle East Monitor | Redaktur : Hermanto Deli
Copyright © 1439 Hjr. (2018) – Moslemtoday.com

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here