Tabuik, Ritual Syiah yang Menjadi Alek Nagari

5912

Moslemtoday.com : Festival Tabuik selalu dirayakan setiap 10 Muharam di Pariaman, Sumatera Barat. Ini merupakan acara perayaan Asyura, 10 Muharam, yang diperingati kaum Syiah setiap tahun sejak 1831. Uniknya penduduk Pariaman bukan pemeluk Syiah.

Tabuik (artinya peti) sendiri adalah patung seekor burak: kuda berkepala manusia perempuan yang memiliki dua sayap dan ekor yang lebar. Di punggungnya terdapat peti dengan hiasan-hiasan yang cantik dengan sebuah payung kertas di puncaknya.

Semua patung ini terbuat dari rangka bambu, rotan, dan kayu. Kemudian dihias dengan kain dan kertas warna-warni. Setiap tahun ada dua tabuik setinggi 12 meter yang dikeluarkan ke tengah kota pada 10 Muharam. Ribuan pengunjung akan datang menyaksikannya. Kedua tabuik ini digotong dengan diiringi irama gendang tasa ke Pantai Gandoriah.

Tabuik tak sekadar hiasan. Pembuatannya diiringi dengan upacara ritual. Ada tujuh prosesi pembuatan tabuik yang dimulai 1-10 Muharam. Tahun baru Islam menandai dimulainya Festival Tabuik. Pada 1 Muharram, masyarakat Pariaman mengambil tanah dari dua sungai yang berbeda. Tabuik Pasa mengambil tanah di Desa Pauh, sedangkan Tabuik Subarang mengambil tanah di Alai Galombang. Tanah kemudian ditempatkan ke sebuah pot yang disimpan di dalam daraga. Daraga adalah sebuah tempat persegi empat yang dilingkari oleh pohon pimpiang, yaitu sejenis ilalang dengan batang keras. Tanah ini merupakan simbol dari jasad Hussein.

Ritual selanjutnya adalah penebangan batang pisang. Ritual ini bermakna tajamnya pedang yang dipakai putra Hussein, Abi Kasim, dalam perang menuntut balas kematian ayahnya. Penebangan dilakukan pada 5 Muharram.

Pada 7 Muharram masyarakat melaksanakan ritual maarak jari-jari. Ini merupakan kegiatan mengarak jari-jari Hussein yang tercincang di Perang Karbala. Hari berikutnya dilaksanakan ritual maarak saroban, yaitu melambangkan kepala Hussein yang ditebas musuh.

Selama ritual berlangsung, dua rumah tabuik mulai merangkai tabuik. Puncaknya adalah menyatukan dua bagian tabuik pada 10 Muharram dan mengaraknya ke alun-alun kota sebelum dibuang ke laut. Kegiatan ini disebut dengan tabuik naiak pangkek (tabuik naik pangkat).

Rumah Tabuik adalah rumah keluarga pewaris budaya tabuik yang dibawa oleh bekas tentara Inggris Raya asal Sepoy, India, setelah dibubarkan ketika Inggris hengkang dari Bengkulu pada 1824.

Acara Tabuik adalah peringatan Hari Assyura atau hari berkabung atas kematian Imam Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW yang tewas di Padang Karbala pada 10 Muharam 61 Hijriah atau 680 Masehi.

Tabuik dianggap perwujudan seekor burak yang membawa peti di punggungnya untuk mengangkut jenazah Imam Hosen. Dikisahkan, burak datang setelah pembantaian Hussein dan pasukannya yang kecil oleh pasukan Khalifah Raja Yazid yang berjumlah ribuan. Lalu, sang burak terbang ke angkasa membawa jenazah tersebut.

Itulah makna Tabuik diarak lalu dibuang ke laut. Itu puncak dari proses ritual yang telah dimulai sejak 1 Muharam hingga 10 Muharam yang dimulai mengambil tanah di muara sungai, mengarak jari-jari dan sorban lalu pada 10 Muharam diterbangkan ke Samudera Hindia.

Agak aneh sebenarnya dengan ritual ini. Sebab di Kota Pariaman dan sekitarnya tidak ada penganut Syiah. Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara tabuik (Bengkulu: tabot) mulai dikenal di Indonesia. Namun, catatan dari Snouck Hrgronje, seorang peneliti pranata Islam di masyarakat pribumi Hindia-Belanda (sekarang Indonesia) memiliki derajat kesahihan yang paling tinggi jika dibandingkan dengan berbagai versi cerita mengenai asal-usul perayaan tabuik di Pariaman. Bahwa tradisi unik yang diadakan tiap tahun pada sepuluh hari pertama bulan Muharram ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Mereka, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India.

Waktu itu Pariaman merupakan kota pelabuhan terkemuka di pantai barat Sumatera. Berbagai macam suku bangsa tinggal di sana, termasuk Aceh dan Arab yang juga beragama Islam.

Setelah Traktat London pada 17 Maret 1829 antara Inggris dan Belanda, wilayah pesisir barat Sumatra yang semula dikuasai Inggris diserahkan kepada Belanda dan sebagian prajurit memilih tinggal di Pariaman. Merekalah kemudian menganjurkan diadakannya perayaan Asyura dengan membuat Tabuik untuk mengenang kematian cucu Nabi Muhammad SAW tersebut.

Penduduk Pariaman sendiri adalah penganut Mazhab Syafii yang dibawa Syekh Burhanuddin, seorang ulama penyebar Islam pertama di Sumatera Barat beraliran tarekat syattariyah. Cara mengajarkan agama yang sangat persuasif, toleran terhadap adat, dan melalui pendekatan kultural yang dilakukan ulama ini mempunyai andil diterimanya perayaan Tabuik di Pariaman.

Hari ini, tabuik tidak lagi hanya menjadi ritual syiah di Pariaman. Tabuik berevolusi menjadi festival budaya yang menjadi ciri khas negeri sala lauak tersebut. Belum sah jika seseorang datang ke Pariaman tapi tidak menyaksikan Festival Tabuik. Tidaklah salah jika anekdot mengatakan, Piaman tadanga langang, batabuik makonyo rami (Pariaman terdengar lengang, tapi ramai ketika bertabuik). Bagi masyarakat Pariaman, tabuik telah menjadi bagian dari hidup mereka. Perayaan tabuik bahkan lebih ramai daripada hari raya.

Sementara Walikota Pariaman, Mukhlis Rahman dalam salah satu sambutannya pada acara Wirid bulanan ASN Pemkot Pariaman mengatakan bahwa Pesta Budaya Tabuik bukanlah sebuah ritual peribadatan seperti Umat Syiah tetapi prosesi budaya yang dibuat dalam rangka meningkatkan kunjungan wisata.

“Orang Pariaman tak ada syiah, tabuik hanyalah even budaya yang sudah kita tetapkan jadi even Wisata di Kota Pariaman.” ungkap Mukhlis.

Ia menyebutkan ada SMS yang datang padanya mengatakan bahwa Walikota orang syiah, hal ini tidak benar, tabuik menurut Mukhlis bukan ritual keagamaan tapi budaya yang sudah menjadi event wisata. “Ambil makna positif, even yang dilakukan untuk meningkatkan kunjungan, kalau ada yang kurang baik perlu kita bicarakan,” kata Walikota Pariaman.

Namun melihat sejarah tabuik dan prosesi tabuik itu sendiri yang identik dengan perayaan ritual Syi’ah, maka tidak dipungkiri lagi bahwa tabuik ini sendiri adalah ritual syiah yang telah menjadi alek nagari.

Tabuik sendiri dalam literatur-literatur ilmiah disebutkan adalah perayaan dalam rangka memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. Perayaan ini untuk memperingati peristiwa wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali yang gugur dalam peperanga di padang Karbala, Iraq tanggal 10 Muharam 61 Hijrah (681 Masehi).

MTD Official

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here