Turki ingin bergabung dengan BRICS karena kecewa dengan NATO dan Uni Eropa

1146
Turki ingin bergabung dengan BRICS karena kecewa dengan NATO dan Uni Eropa

Moslemtoday.com : Dengan melontarkan ide Turki bergabung dengan BRICS, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tengah berusaha untuk mendiversifikasi kebijakan luar negeri Ankara, dengan tawaran keanggotaan Uni Eropa yang lama terhenti dan hubungan dengan AS semakin renggang.

Presiden Turki telah menyarankan bahwa para pemimpin blok BRICS dengan lima anggota : Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan, harus menambahkan “T” untuk akronim. Erdogan diundang ke KTT BRICS di Johannesburg dan mengatakan bahwa  BRICS saat ini menyambut gagasan keanggotaan Turki.

Evgeniy Bakhrevskiy, wakil direktur dari Institut Riset Budaya dan Warisan Alam Rusia mengatakan bahwa poros BRICS yang dipilih Erdogan berakar dari kekecewaan yang meningkat di Turki terhadap Barat.

“Erdogan percaya ada kebutuhan untuk mendiversifikasi kebijakan luar negeri Turki, karena ia sangat kecewa dengan struktur NATO dan Uni Eropa, Turki memiliki hubungan yang agak tegang dengan AS,” ujar Bakhrevskiy, seperti dilansir dari Russia Today, Selasa, (31/7/2018).

Bakhrevskiy menunjukkan : Ide itu juga datang pada saat ketika impian lama Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa berada dalam kondisi vakum, dengan proses aksesi yang secara efektif membeku. Meskipun Uni Eropa adalah mitra dagang utama Turki, Turki masih terjebak di daftar tunggu keanggotaan blok itu , sebuah situasi yang dengan sendirinya merupakan penghinaan terhadap Ankara.

Hubungan Ankara dengan Washington juga mengalami masa sulit, dengan “sentimen anti-Amerika sangat kuat di hampir semua lapisan masyarakat Turki,” kata Bakhrevskiy. Erdogan tidak ragu untuk memanfaatkan sentimen tersebut.

“Anti-Amerikanisme populer, dia adalah seorang politikus, dia akan melakukan apa yang disukai orang,” ujar Bakhrevskiy.

Stevan Gajic, peneliti di Institut Studi Eropa di Beograd, berpendapat bahwa itu bukan pertimbangan geopolitik, tetapi “sesuatu yang sangat pribadi” yang telah mendorong Erdogan untuk memperjuangkan aliansi baru.

Gajic percaya bahwa upaya kudeta militer yang digagalkan pada tahun 2016 dan Presiden Suriah Bashar Assad menang di Suriah dengan bantuan Rusia, adalah dua faktor utama yang membuat perubahan pandangan Erdogan.

“Perubahan utama dari 2015 adalah bahwa Turki dan Rusia berada di ambang perang,” kata Gajic. Rusia menyatakan dukungannya bagi Erdogan menyusul upaya kudeta 2016.

Gajic percaya Ankara bisa memanfaatkan ancaman meninggalkan NATO sebagai “kunci utama tawar-menawar.” Potensi keluarnya Turki dari NATO akan “menghadapi pukulan besar” bagi aliansi tersebut.

Posisi yang ambigu ini “adalah yang terbaik untuk Turki,” Gajic percaya, karena Rusia dan AS akhirnya tertarik untuk mendapatkan kembali Ankara.

BRICS adalah akronim dari Brasil, Rusia, India, China, dan South Afrika. Blok lima negara yang pertumbuhan ekonominya pesat. Akronim ini pertama dicetuskan oleh Goldman Sachs pada tahun 2001 Menurut Goldman Sachs, pada tahun 2050, gabungan ekonomi blok negara itu akan mengalahkan negara-negara terkaya di dunia saat ini.  (DH/MTD)

Sumber : Russia Today | Redaktur : Hermanto Deli
Copyright © 1439 Hjr. (2018) – Moslemtoday.com

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here