Ulil Abshar Abdalla : Amat Disayangkan “Jilbab Nusantara” Tergusur “Jilbab Timur Tengah”

1722

Pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla menyayangkan “jilbab timur tengah” telah menggusur “jilbab nusantara”.

Apa yang ia istilahkan dengan “jilbab timur tengah” adalah jilbab yang menutup seluruh rambut dan leher hingga dada. Sedangkan apa yang ia istilahkan dengan “jilbab nusantara” adalah kerudung atau tutup kepala yang masih memperlihatkan rambut dan leher wanita.

“Gara-gara gelombang “Islamisasi” model Timur Tengah era 80an, jenis jilbab Nusantara itu tergusur. Amat disayangkan,” kata Ulil melalui akun @ulil, Kamis (18/8/2016).

Kicauan Ulil itu pun langsung mendapat banyak tanggapan. Sejumlah netizen mencoba meluruskan Ulil.

“@ulil sy perlu wawasan mas ulil membandingkan jilbab jawa dan sebagian sumatera. Sebab Minang, utamanya, jilbabnya memang rapat,” kata @mardiasih sembari mengunggah foto Rahmah El Yunusiah, reformator pendidikan Islam di Indonesia yang wafat pada 26 Februari 1969. Rahmah merupakan pendiri Diniyah Putri, sekolah agama Islam perempuan pertama di Indonesia.

Rahmah El Yunusiah

“@ulil Boss yang itu bukan jilbab tapi selendang. Kalo jilbab dia Islam Anda pasti lebih tahu! Kan Anda Gus dan pernah di Lipia. Lihat QS Al Ahzab 59,” kata @syamsurizal20.

“@ulil karena tidak syari, saat itu mereka belum tahu” kata burhanudin.

Ada pula netizen yang memprotes karena yang dipersoalkan Ulil hanya Islam dan Arab, sementara budaya Barat yang jelas-jelas merusak justru dibiarkan.

“@ulil kalau pengaruh barat Bapak tak komentar pengaruh Islam belahan bumi Allah komentarnya justru merendahkan umat Islam,” kata @abdulazzam1926.

Karena menuding jilbab syar’i yang menutup seluruh rambut dan leher hingga dada sebagai “jilbab timur tengah”, sejumlah netizen pun menanggapinya.

Berikut ini poin-poin tanggapan yang cukup telak bagi Ulil.

Pertama, membatasi jilbab dengan teritorial tertentu tidak dapat dibenarkan. Pasalnya, jilbab dalam Islam bersifat universal.

Kedua, mengistilahkan kerudung yang masih memperlihatkan rambut dan leher wanita sebagai “jilbab nusantara” tidaklah tepat.

Sejumlah netizen membantahnya dengan menunjukkan bahwa di daerahnya, sejak zaman dulu jilbab tidak membuka rambut dan leher.

“Mas @ulil kayaknya itu model jilbab di jawa aja deh bukan Nusantara.. Di Sumatera model gini,” kata @natul_aini sembari mengunggah foto jilbab di Sumatera pada zaman dulu.

Ketiga, mengistilahkan jilbab lebar yang menutup aurat sebagai “jilbab timur tengah” juga tidak dapat dibenarkan. Apalagi telah terbukti bahwa sejak zaman perjuangan kemerdekaan pun, sebagian tokoh perempuan Indonesia telah memakai jilbab seperti itu. Misalnya Rahmah El Yunusiah, reformator pendidikan Islam di Indonesia yang wafat pada 26 Februari 1969. Rahmah merupakan pendiri Diniyah Putri, sekolah agama Islam perempuan pertama di Indonesia.

Rahmah El Yunusiah

Jilbab lebar juga mewarnai masa-masa kemerdekaan. Dalam sebuah foto di musem Bali tampak seorang perempuan berjilbab berdiri di depan Soekarno saat Sang Proklamator itu sedang berpidato.

Dokumen Foto di Museum Bali

Keempat, menggunakan istilah “gusur” bukanlah pilihan tepat, bahkan cenderung bermuatan propaganda yang berupaya mengadu Islam dengan budaya Indonesia.

“Kalau pengaruh barat Bapak tak komentar pengaruh Islam belahan bumi Allah komentarnya justru merendahkan umat Islam,” kata @abuazam1926.

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here