Ustadz Sofyan Chalid Ruray : “Penyelewengan Terhadap Ayat-Ayat Jihad Beda Dengan Kasus Al-Maidah Ayat 51”

1578

🚧 PENYELEWENGAN TERHADAP AYAT-AYAT JIHAD BEDA DENGAN KASUS AL-MAIDAH AYAT 51

📝 (DAN RENUNGAN DARI AYAT SELANJUTNYA) 📝 

Sebagian orang menyamakan penyelewengan ayat-ayat jihad yang dilakukan oleh ISIS dan yang semisal dengan mereka dari kalangan khawarij dengan kasus pendalilan haramnya memilih pemimpin kafir memakai surat Al-Maidah ayat 51. Anggapan ini sangat keliru, karena yang pertama melakukan penyelewengan makna ayat, sedang yang kedua melakukan pendalilan dengan cara yang benar.

Kami katakan bahwa Khawarij menyelewengkan makna ayat-ayat jihad karena beberapa alasan, diantaranya:

1. Mereka memerangi kaum muslimin yang tidak patut diperangi dan memberontak terhadap pemerintah muslim, padahal sudah dimaklumi bahwa jihad untuk memerangi orang-orang kafir.

2. Tidak memenuhi 3 syarat jihad, yaitu: Pertama: Dipimpin oleh kepala negara, Kedua: Memiliki kekuatan, Ketiga: Memiliki wilayah kekuasaan. Yang terjadi malah mereka melawan pemerintah muslim dan ingin merampas kekuasaan dari kaum muslimin.

3. Membunuh orang kafir tanpa pandang bulu, dan meyakini semua orang kafir adalah harbi (harus diperangi), padahal dimaklumi dalam syari’at ada orang-orang kafir yang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin yang tidak boleh diperangi selama mereka menaati perjanjian tersebut.

Adapun pendalilan dengan surat Al-Maidah ayat 51 untuk melarang kaum muslimin memilih pemimpin kafir adalah pendalilan yang benar karena beberapa alasan, diantaranya:

1. Makna “Auliya” (أولياء) “wali-wali” dalam Bahasa Arab juga bermakna “Sulthan” (السلطان) “pemimpin”, sebagaimana disebutkan dalam kamus-kamus Bahasa Arab, diantaranya:

الوِلاية، بِالْكَسْرِ، السُّلْطَانُ

“Perwalian dengan kata dasar yang dikasrah huruf awalnya bermakna sulthan (penguasa).” [Mukhtaarus Shihah, hal. 345, Lisaanul Arab, 15/407, Tajul ‘Arus, 40/242]

2. Terjemahan Al-Qur’an Resmi Departemen Agama Republik Indonesia:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [Al-Maidah: 51]

3. Andai diartikan “teman setia” sekali pun tetap saja tidak bisa menghilangkan makna “pemimpin” karena bisa saja satu ayat memiliki banyak makna, siapa yang memberi hak kepada kita untuk menghilangkan sebagian atau seluruh makna ayat yang sudah jelas…!?

Bahkan secara akal sehat jika larangan dalam ayat ini diartikan sebagai larangan menjadikan orang kafir sebagai “teman setia” maka tentu menjadikan orang kafir sebagai “pemimpin” lebih terlarang lagi karena dampak negatifnya jauh lebih besar.

4. Kesepakatan Ulama Islam dari Seluruh Mazhab atas Haramnya Memilih Pemimpin Kafir:

أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل

“Ulama telah sepakat (ijma’) bahwa kepemimpinan tidak sah bagi seorang kafir, dan jika seorang pemimpin muslim menjadi kafir maka harus diselengserkan.” [Syarhu Muslim, 12/229]

5. Walau sebagian ulama ahli tafsir menyebutkan kisah sebab turunnya ayat ini terkait dengan peperangan di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam namun ayat ini berlaku umum, tidak dibatasi hanya dalam masa perang atau hanya pada kasus khusus, karena lafaz ayat bersifat umum tanpa memberi pengecualian, dan termasuk kaidah penting dalam ilmu tafsir:

الخبر على عمومه حتى يأتي ما يخصصه

“Khobar dalam ayat bermakna umum sesuai lafaznya yang umum, sampai ada dalil lain yang memberikan pengkhususan.”

Dan kaidah lain dalam ilmu tafsir:

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

“Yang menjadi patokannya adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab.” [Fushulun fi Ushulit Tafsir, hal. 131]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Mufasir Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

إذا نزلت الآية لسبب خاص، ولفظها عام كان حكمها شاملا لسببها، ولكل ما يتناوله لفظها، لأن القران نزل تشريعا عاما لجميع الأمة فكانت العبرة بعموم لفظه لا بخصوص سببه

“Apabila turun satu ayat karena adanya sebab khusus, sedang lafaznya umum, maka hukumnya mencakup sebabnya dan semua yang tercakup oleh lafaznya, karena Al-Qur’an turun untuk menetapkan syari’at yang umum bagi seluruh umat, maka yang menjadi patokannya adalah keumuman lafaznya, bukan kekhususan sebabnya.” [Ushulun fit Tafsir, hal. 13]

Maka jelaslah bahwa melarang kaum muslimin untuk memilih pemimpin kafir memakai Al-Maidah ayat 51 sesuai dengan maknanya yang sebenarnya.

Sama dengan melarang kaum muslimin makan babi memakai Al-Maidah ayat 3.

Sama dengan melarang kaum muslimin membunuh memakai Al-Maidah ayat 32.

Sama dengan melarang kaum muslimin mencuri memakai Al-Maidah ayat 38.

Sama dengan melarang kaum muslimin minum khamar memakai Al-Maidah ayat 90.

Sama dengan melarang kaum muslimin berzina memakai Al-Isra’ ayat 32.

Sehingga menuduh para ulama berbohong dengan memakai Al-Maidah ayat 51 untuk melarang kaum muslimin memilih pemimpin kafir adalah sebuah tuduhan yang melecehkan Al-Qur’an dan Ulama Islam, serta sangat menyakiti kaum muslimin.

📝 RENUNGAN DARI AL-MAIDAH AYAT 52

Alllah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana (dari orang-orang kafir itu)”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al-Maidah: 52]

📖 #Beberapa_Pelajaran:

1. Ayat yang mulia ini menunjukkan sifat orang munafik adalah bersikap loyal terhadap orang-orang kafir.

2. Orang-orang munafik takut kepada orang kafir, maka mereka menggunakan cara pendekatan kepada orang kafir agar mendapat perlindungan.

3. Menggunakan cara yang tidak syar’i dalam menghadapi orang kafir.

4. Allah ‘azza wa jalla pasti memenangkan kaum muslimin, maka tempuhlah cara yang syar’i dalam berjuang di jalan Allah dan membela agama-Nya.

5. Orang-orang munafik pasti akan menyesal, karena mereka tidak akan mendapatkan manfaat dari orang kafir, bahkan hanya tertimpa mudarat, dan yang lebih dahsyat tentunya adalah azab di akhirat.

📚 [Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3/132]

💻 Artikel Terkait:

[Audio] Setelah Al-Maidah 51
🔸 Link: http://bit.ly/2fYEtrN

Larangan Memilih Pemimpin Kafir dalam Surat Al-Maidah Ayat 51 Sesuai Terjemahan Resmi Depag RI dan Penjelasan Ahli Tafsir
🔸 Link: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/677211869094965:0

Setelah Menghina Al-Qur’an, Minta Maaf Saja Belum Cukup, Jadi Harus Bagaimana?

🔸
Link: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/679235522225933:0

Siapa yang Bohong dan Memanipulasi Ayat?

🔸
Link: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/678785838937568:0

══════ ❁✿❁ ══════

Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam
📮 Join Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲 Gabung Group WA: 08111377787
🌍 Fb: www.fb.com/taawundakwah
🌐 Web: www.taawundakwah.com
📱 Android: http://bit.ly/1FDlcQo
🎬 Youtube: Ta’awun Dakwah
📒 Hastag: #Faidah_Tafsir

Sumber : Fanspage Ustadz Sofyan Chalid Bin Idham Ruray

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here