Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin : “Dilema Sekolah Sunnah di Ibukota”

1293

DILEMA SEKOLAH SUNAH DI IBU KOTA

Sejak saya mendirikan sekolah IHBS, tak jarang mendapatkan pujian, nanum kadang juga diserang baik lewat MEDSOS maupun gosipan jalanan..

Memang tidak mudah mengelola sekolah sunnah di Jakarta….jantung ibu kota negeri tercinta…..

Untuk hidup wajar hanya tinggal di rumah petakan, hanya biaya air dan listrik belum kebutuhan lain hampir 1.000.000 rupiah.

Mahalnya biaya kesehatan, transportasi dan makanan sudah menjadi rahasia umum di Ibu Kota.

………..Apalagi biaya pendidikan…………

Memang tak mudah memahamkan kepada orang yang belum pernah merasakan hidup di Jakarta dengan segudang macet dan hiruk pikuk kegiatan harian yang serba bayar dan mahal.

Bercerita sekilas tentang IHBS, memang tampak mahal dan menjadi cibiran

“Sekolah Sunnah kok Mahal”.

Coba mohon sejenak direnungkan dengan kepala dingin dan pikiran dewasa….

IHBS ITU dari ruang asrama, kelas dan masjid serta seluruh kantor ber AC.

PAKAIAN SANTRI DI LOUNDRY
MAKANAN CATERING
SERAGAM SEKOLAH LENGKAP gratis
BUKU-BUKU PELAJARAN DIBAGI GRATIS

Semua perlengkapan santri dari mulai tempat tidur, kasur, bantal, guling, seprai dan loker buku dan pakaian GRATIS.

DAN PROGRAM PEMDIDIKAN 6 TAHUN LHO UNTUK SMP DAN SMA

Ekskul dan Outing 2 kali sebulan. Belum rihlah dan tadabur alam ke luar kota.

Pengasuh asrama per ruang yang berisi 8 hingga 12 santri dijaga oleh satu guru.

Ditambah guru tahfidz per 10 hingga 13 santri dipegang oleh satu ustadz. Bayangkan kalau IHBS punya 1400 santri berapa jumlah pengasuh dan guru tahfidz, belum guru kelas.

Coba sekarang kita membuat simulasi kebutuhan hidup di JAKARTA PER BULAN kalau per guru gajinya antara 3 jtan hingga 4 jtaan, DENGAN SATU ISTRI DAN 2 ANAK SAJA.

BAYAR KONTRAK RUMAH PETAK
700.000

AIR MINUM
50.000

LISTRIK
600.000

KEBUTUHAN SEMBAKO
1.500.000

UANG JAJAN ANAK
150.000

BEROBAT JALAN
300.000

BIAYA PENDIDIKAN

1.000.000

Coba renungkan kira2 masuk tidak dengan gaji diatas. Belum kebutuhan lain yang insidental…..

Beban IHBS makin berat karena harus mensubsidi anak-anak karyawan yang jumlahnya lebih kurang 300 orang, mereka hanya membayar 25 % dari biaya beban pendidikan.

SEANDAINYA SATU KARYAWAN MENYEKOLAHKAN 1 HINGGA 2 ANAK BERAPA KOS SUBSIDI YANG HARUS KITA keluarkan….

Kita juga mengelola tahfidz gratis setiap sore untuk warga sekitar IHBS yang juga tidak sedikit biaya yang harus kita keluarkan.

DITAMBAH LAGI PARA SANTRI YANG DAPAT BIA SISWA ATAU MINTA KERINGANAN.

DAN ITU CUKUP SIGNIFIKAN JUMLAHNYA LHO

Sebagian orang kadang hanya melihat pemasukannya bukan pengeluarannya.

Memang betul pemasukan kita milyaran tetapi pengeluaran kita juga milyaran.

YANG PERLU DIPAHAMI BERSAMA BAHWA CARA PENGHITUNGAN BIAYA PENDIDIKAN ADALAH KITA BREAKDOWN DULU SELURUH KEBUTUHAN OPERASIONAL PENDIDIKAN AKHIRNYA MUNCUL BEBAN BIAYA PENDIDIKAN PER SANTRI DENGAN TETAP MENJAGA KESEIMBANGAN KEMAMPUAN WALI SANTRI DAN BEBAN SEKOLAH.

TAK ada yang perlu saya tutupi, sebagai pengelola sekolah sunnah sejak tahun 2000 an selalu terjadi perang batin dan delimatis.

Satu sisi harus mendengarkan jeritan hati wali santri tapi sisi lain juga kita harus memperhatikan penderitaan para karyawan yang hidup di rumah kontrakan, kapan mereka bisa punya rumah sendiri agak luas dengan 5 sampai 6 anak tetap terjaga privasi mereka bersama anak2 dan keluarga mereka.

Kadang di antara mereka untuk menawarkan nginap keluarganya yang kunjung serba tidak enak karena sempitnya tempat tinggal.

SEMENTARA MEREKA DITUNTUT TAMPIL PRIMA DALAM MENGASUH ANAK DIDIK MEREKA. MEMANG MEREKA TIDAK MENGELUH BAHKAN MEREKA BERBAHAGIA DENGAN KONDISI YANG ADA. TAPI SAYA SEBAGAI PIMPINAN SELALU MENGAMATI DAN MERASAKAN KONDOSI HIDUP MEREKA, BAHWA MEREKA SEBAGAI MANUSIA BUKAN MALAIKAT PASTI PUNYA PANDANGAN SAMA DI BIDANG KESEJAHTERAAN…..

Harusnya semua pihak berpikir dewasa untuk maju bersama agar sekolah sunnah bangkit dan berkiprah di tengah berbagai macam sekolah non muslim yang tumbuh menjamur dengan bayaran mahalnya.

Harusnya semua pihak berpikir cerdas untuk mencarikan solusi bukan mengumbar obrolan fitnah sekolah sunnah mahal di MEDSOS.

Harusnya kita semua berkiprah nyata untuk mencari subsidi silang agar mereka yang tidak bisa masuk sekolah sunnah mendapat bia siswa.

IHBS PUN SUDAH MULAI MEMBUAT MESIN UANG UNTUK SUBSIDI DENGAN MENDIRIKAN BADAN USAHA BERSAMA C.V BUMI IBNU HAJAR.

ALHAMDULILLAH….KITA JUGA PUNYA KEGIATAN RUTIN SOSIAL MASYARAKAT SEKITAR IHBS BAHKAN KITA PUN TELAH MENEMPATKAN DAI-DAI DI WILAYAH TIMUR AGAR KIPRAH IHBS TAMPAK DIRASAKAN UMAT.

KAPAN dakwah sunnah berkembang kalau antara oknum bisanya menggosip dan mencibir “SEKOLAH SUNNAH MAHAL”

ASTAGHFIRULLAH, ITUKAH PERJUANGAN DAN KIPRAH ANDA UNTUK MEMAJUKAN SEKOLAH SUNNAH.

JELAS TIDAK…….

BERJUANG ITU MENIMBULKAN EFEK KEMAJUAN BUKAN MENYULUT DAMPAK FITNAH.

ZAINAL ABIDIN SYAMSUDDIN L.c. M.M

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here