Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin : Mengapa Sekolah Sunnah Cenderung Mahal?

7819

Moslemtoday.com : Biaya pendidikan yang tinggi di sekolah berbasis sunnah menjadi concern para peserta seminar pendidikan dalam rangkaian acara Open House IHBS, Ahad (23/10) di Kampus A SMP IHBS, Munjul. Ada yang mengajukan kalkulasi pendapatan versus pengeluaran biaya pendidikan anak-anak keluarga muslim. Salah satu penanya bahkan menilai bahwa IHBS telah identik dengan tiga kata: salaf, Ustadz Zainal Abidin, dan mahal.

Biaya pendidikan yang tinggi itu tak terhindarkan mengingat mutu penyelenggaraan pendidikan yang harus dijaga. Salah satu panelis, DR. Supriyanto, menyampaikan pentingnya 5M yang justru menjadi kelemahan banyak lembaga pendidikan berbasis sunnah. Lima M itu adalah man, money, methods, material, and management.

Masih banyak dijumpai di lembaga pendidikan sunnah tenaga pendidik yang mengajar siswa SD dengan gaya seorang dosen, lantaran tidak punya latar pedagogik yang memadai. Sekolah dan lingkungan belajar tidak lebih baik dari kandang ayam. Metode pengajaran cenderung seadanya, kurikulum asal jalan dan manajemen ala bakul bakso.

“Rata-rata, sekarang, sekolah sunnah itu dikelola sebagaimana bakul bakso. Bakul bakso itu bagaimana? Bakul bakso itu belajar sendiri, meracik sendiri, masak dan jual sendiri,” ujar DR. Supri. Padahal perlu ada pembagian tugas dan organisasi manajemen yang baik. Oleh karena itu, ASESI (Asosiasi Sekolah Sunnah Seluruh Indonesia) saat ini sedang menyusun kurikulum yang bisa digunakan oleh semua sekolah Islam.

DR. Ridwan Haris sebagai panelis ketiga menyajikan solusi pendidikan yang ditawarkan IHBS. Karena capaian yang disasar ada sedemikian banyak, tidak bisa tidak model boarding menjadi satu-satunya pilihan.

Ustadz Zainal menjawab pertanyaan peserta mengapa biaya pendidikan sekolah sunnah rata-rata mahal, karena memang sekolah sunnah adalah sekolah swasta yang menopang segala biaya penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Biaya tinggi itu juga bukan satu jalan untuk memperkaya diri para pengurus IHBS. Biaya itu pada akhirnya kembali lagi manfaatnya ke peserta didik, dalam wujud layanan pendidikan yang prima. Belum lagi program beasiswa yang diberikan IHBS kepada siswa kurang mampu, putra-putri pegawai, dana-dana sosial, pengembangan pendidikan dan lain-lain.

Sekolah sunnah memang banyak dibantu para muhsinin dan dermawan, akan tetapi muhsinin punya keterbatasan konsistensi dan interest. Mengharap bantuan pemerintah terkadang berisiko menghadapi rasuah, mark-up anggaran dan atau korupsi dari oknum-oknum pemerintah sendiri. Selama bantuan pemerintah bersih dari unsur-unsur korupsi tentu IHBS akan menerima.

Bisa pula diupayakan model-model pendidikan lain jika memang keluarga-keluarga muslim menginginkan pendidikan berbiaya rendah. Ustadz Zainal mencontohkan penyelenggaraan  pesantren Sabtu-Ahad bagi anak-anak ahlussunnah yang belajar di sekolah umum.

Sumber : IHBS.or.id

comments

Loading...

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here