Wajah Baru Turki di Bawah Erdogan: Kebangkitan Neo-Ottomanisme?

191

Moslemtoday.com : Selama bertahun-tahun pasca runtuhnya Kekaisaran Ottoman, Turki dikenal sebagai masyarakat modern, sekuler, dan pro-Barat setidaknya hingga dekade terakhir. Turki adalah negara sekuler yang berpenduduk mayoritas Muslim. Konstitusi Turki menjamin kebebasan beragama dan tidak memiliki agama resmi yang didukung negara.

Turki terletak di ujung Eropa dan Timur Tengah, tidak hanya menarik secara geografis tetapi juga dalam arti tertentu, secara politik. Meskipun berada di Timur Tengah, Turki adalah anggota NATO dan telah berupaya agar bisa bergabung dengan Uni Eropa. Tetapi banyak hal telah berubah dalam dua puluh tahun terakhir.

Sementara itu, sejak awal tahun 2000-an, sistem politik Turki terus bergerak menuju sistem yang dibentuk oleh ide-ide Islam. Turki telah mendanai dan mengaktifkan kelompok-kelompok pejuang Islam, seperti Hamas. Turki juga berebut pengaruh dengan Arab Saudi dan Iran untuk menjadikan dirinya sebagai pemimpin komunitas Muslim global.

Bagaimana ini bisa terjadi? Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kebangkitan Islamisme di Turki?

Untuk memahami transformasi ini, Direktur Ayn Rand Institute, Elan Journo berbicara dengan Dr. Michael Rubin, mantan pejabat Pentagon dan peneliti di American Enterprise Institute. Rubin yang berspesialisasi sebagai pengamat Timur Tengah, Turki dan Iran termasuk di antara sedikit suara yang sejak awal meningkatkan peringatan tentang tren yang diambil oleh Turki, bangkitnya neo-Ottomanisme.

Menurut Dr. Michael Rubin, kekuatan pendorong di balik pembentukan kembali Turki adalah pemimpin negara itu, Recep Tayyip Erdogan -seorang pria yang digambarkan oleh Rubin sebagai seorang jihadis dalam setelan bisnis. Rubin berpendapat bahwa Arab Saudi adalah kebangkitan gerakan Islam di abad ke-20, (dengan menjadi sponsor keuangan global dengan membuka lembaga-lembaga pendidikan Islam di berbagai negara), Turki bertujuan untuk mengambil peran itu di abad ke-21.

Beberapa kesimpulan menonjol terkait transformasi Turki dari sekuler menjadi Islamis :

Pertama, Erdogan memulai rencana yang diperhitungkan untuk memasukkan ide-ide Islam ke dalam masyarakat Turki. Kedua, kampanye Erdogan bersifat inkrementalis, membentuk kembali institusi dan sistem hukum dari dalam, tetapi juga oportunistik, mengeksploitasi dalih untuk membungkam perbedaan pendapat. Akhirnya, penting untuk menyadari bahwa otoritarianisme Erdogan sekarang sedang bergerak menuju kediktatoran, dan bahwa perebutan kekuasaan yang lebih besar ini adalah cara untuk mencapai tujuan akhir dari penciptaan masyarakat Islam di bawah pengaruh neo-Ottomanisme.

Dengan kata lain, rezim-rezim Islamis di Iran, Arab Saudi, Afghanistan dan di tempat lain terkadang mencapai kekuatan totaliter, tetapi variasi yang dapat dikenali dari pemerintahan Islam ini bukanlah satu-satunya. Bisa juga terlihat seperti di Turki. (DH/MTD)

Sumber : Aynrand.org | Redaktur : Hermanto Deli

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here