Analisis Kunjungan Muqtada Al-Sadr ke Arab Saudi

2731

Moslemtoday.com : Kunjungan Muqtada Al-Sadr (Tokoh Syi’ah yang paling berpengaruh di Iran) ke Arab Saudi menuai pro dan kontra di lini massa. Irak adalah negara besar dan bukan republik boneka bagi rezim keagamaan ekstremis di Teheran. Irak hari ini, di bawah hegemoni Iran, adalah negara miskin dari semua standar.

Gambaran hegemoni rezim Iran atas semua aspek kehidupan di Irak terlihat jelas. Dari perdagangan hingga konstruksi dan bahan baku hingga kontrolnya terhadap bank, pemerintah, parlemen dan partai politik. Sebuah laporan New York Times mengatakan bahwa orang-orang Iran mengendalikan segalanya, dari stasiun televisi hingga perdagangan.

Iran mencoba untuk membenarkan kehadiran dan penguasaannya dengan mengatakan bahwa Irak membutuhkannya dan bahwa tanpa itu, ia akan runtuh, bahkan mengklaim bahwa tanpa Iran, Irak tidak akan mampu membebaskan kota Mosul dari ISIS. Namun, itu tidak benar karena pertempuran tersebut dilakukan oleh tentara Irak dengan dukungan AS.

Namun, Iran telah berupaya membangun kekuatan dan kehadirannya di Irak selama 14 tahun, sampai sekarang telah menjadi penguasa tertinggi. Mayoritas politisi Irak, termasuk orang Arab Sunni, Turkmen dan Kurdi, akrab dengan jalan ke Teheran, mereka ke Iran untuk menerima dukungan dan persetujuan kepemimpinannya. Ini mirip dengan politisi Lebanon yang biasa pergi ke Suriah untuk mendapat restu presiden di Damaskus.

Sehubungan dengan hegemoni Iran ini, kita menyaksikan kunjungan berani Sayyid Moqtada al-Sadr, salah satu tokoh Syi’ah yang paling berpengaruh di Irak, ke Arab Saudi. Kunjungan tersebut mengkonfirmasikan klaim bahwa dia menolak hegemoni ini dan sebaliknya menyuarakan independensi pemerintah Irak. Ini juga menjadi tantangan bagi politisi, seperti Nouri al-Maliki, wakil presiden Irak saat ini, yang sebelumnya menjabat sebagai perdana menteri terburuk dalam sejarahnya.

Sikap Al-Sadr dan sejumlah pemimpin Irak tidak didasarkan pada penolakan hubungan baik dengan tetangganya, Teheran, tapi ini bertentangan dengan kebijakannya. Mereka menentang kontrol Iran atas sumber daya dan otoritas. Mereka menentang perubahan arah saluran di perbatasan dan mengebor minyak di daerah-daerah terdekat. Mereka menentang pemanfaatan perusahaan dan bank Irak untuk transaksi rahasia dan perdagangan internasional yang dilarang di Iran. Mereka menentang pembentukan milisi Irak di luar kendali negara. Mereka menentang campur tangan Garda Revolusi Iran di pemerintahan Irak dan parlemen, mereka menentang pengelolaan media pemerintah oleh Iran.

Irak adalah negara besar dan bukan republik boneka bagi rezim keagamaan ekstremis di Teheran yang memerah susu secara finansial untuk mendanai pasukan militernya di Suriah, Lebanon dan daerah lainnya.

Irak hari ini, di bawah hegemoni Garda Revolusi Iran, adalah negara miskin dari semua standar, bukan karena kekurangan sumber keuangan, namun karena adanya korupsi besar di institusi dan penjarahan sumber daya oleh Iran ini.

Kunjungan Sadr ke Arab Saudi adalah demi kepentingan negara-negara di kawasan ini, seperti Gulf Cooperation Council (GCC), untuk mendukung kemerdekaan Irak dan membuat rakyatnya merasa bahwa mereka tidak sendiri.

Melihat Irak sebagai salah satu sekte Syi’ah adalah interpretasi yang salah mengenai situasi politik di lapangan dan menunjukkan kurangnya pemahaman tentang dinamika politik dan sosial di sana.

Kunjungan Sadr ke Arab Saudi didahului oleh kunjungan Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi bertemu Raja Salman. Kunjungan ini membuka pintu yang sebelumnya tertutup menuju perbaikan politik positif dan signifikan dengan Irak.

Adalah wajar untuk bertanya-tanya apakah orang-orang Irak dapat menghadapi Iran? yang secara ketat memblokade Suriah utara, tanpa memperhatikan pembantaian mengerikan yang dilakukan oleh milisinya di sana.

Memperbaiki Irak adalah misi yang ditugaskan kepada para nasionalis negara tersebut terlepas dari afiliasi mereka. Negara-negara Teluk juga turut bertanggung jawab untuk mengambil sikap tegas mereka melawan hegemoni institusi rezim Ayatollah, seperti Pasukan Al-Quds di lembaga negara dan di partai politik Irak.

Irak sebenarnya adalah negara kaya dengan sumber dayanya. Irak tidak kekurangan sumber daya utama seperti Suriah dan Yaman. Hal ini adalah peluang untuk mendapatkan kembali otoritasnya ketika para pemimpin nasionalis Irak mengangkat suaranya dengan tegas untuk semua orang agar didengar dalam melawan hegemoni Iran.

Orang-orang di dunia perlu mendengarkan mereka bahwa mereka akan memerangi hegemoni Iran dan mengusir Garda Revolusi dari tanah air mereka. Ini adalah kewajiban bagi orang Irak, bukan Teluk Arab atau siapapun. Karena itu, salah satu langkah yang diambil Al-Sadr adalah mendekati Arab Saudi yang merupakan rival utama Iran di kawasan. (DH/MTD)

Oleh : Sheikh Abdurrahman Al-Rasyid (Mantan Manajer Umum TV Al Arabiya, Mantan Pemimpin Redaksi Asharq Al-Awsaat, Wartawan Senior di Surat Kabar Al-Madina dan Al-Bilad)

Sumber : Asharq Al-Awsaat

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here