Saya tidak tahu persis apa yang ada di benak mahasiswa berusia 19 tahun itu ketika ia duduk di selasar perpustakaan kampusnya bersama seseorang yang ia kenal dari media sosial. Tapi saya tahu satu hal: ia tidak lahir dengan keinginan itu. Tidak ada yang lahir ke dunia ini dalam keadaan tercerabut dari fitrahnya.
Kasus viral di Politeknik Negeri Jakarta itu meledak di media sosial. Sidang terbuka digelar malam itu juga. BEM bersuara. Kampus bergerak. Orang tua si mahasiswa meminta maaf sambil pasrah anaknya dikeluarkan. Reaksi-reaksi itu semua wajar โ bahkan perlu.
Tapi ada pertanyaan yang lebih dalam yang tampaknya tidak banyak orang mau berhenti untuk merenungkannya: siapa yang sebenarnya membentuk anak muda itu menjadi seperti itu?
Ia Bukan Sekadar Pelaku
Ada kecenderungan yang sangat manusiawi dalam situasi seperti ini: kita ingin ada yang disalahkan, dan kita ingin orang itu dihukum. Itu naluri keadilan yang wajar. Tapi kalau kita berhenti di sana, kita sedang menutup mata terhadap gambar yang jauh lebih besar.
Bayangkan seorang anak yang tumbuh dengan ponsel di tangan sejak SMP. Setiap hari algoritmanya menyajikan konten yang โ sedikit demi sedikit, dengan cara yang tidak terasa seperti indoktrinasi โ menggambarkan hubungan sesama jenis sebagai sesuatu yang biasa, bahkan romantis dan pemberani. Karakter LGBT yang simpatik di serial favorit. Pasangan sesama jenis yang dipotret penuh kehangatan oleh media โprogresifโ. Thread-thread panjang yang menjelaskan bahwa menolak LGBT adalah tanda pikiran yang sempit.
Kalau anak itu tidak punya benteng, tidak punya pendidikan akidah yang kuat, tidak punya orang tua atau guru yang mendampingi, tidak punya komunitas yang mengingatkan, berapa lama ia bisa bertahan?
Mahasiswa PNJ itu, dengan segala konsekuensi yang harus ia tanggung, sangat mungkin adalah salah satu korban dari proses itu. Korban dari propaganda normalisasi yang bekerja jauh sebelum insiden di selasar perpustakaan itu terjadi.
Kenali Siapa yang Bekerja di Baliknya
Ini bukan konspirasi tanpa nama dan tanpa wajah. Ada pihak-pihak yang secara sadar dan konsisten mendorong agenda normalisasi ini di Indonesia, dan mereka beroperasi di ruang yang sama dengan anak-anak muda kita setiap harinya.
Magd***.co, misalnya, menampilkan diri sebagai media perempuan yang progresif dan kritis. Tapi siapapun yang pernah mengikuti kontennya tahu ke mana arah angin bertiup: artikel demi artikel yang memposisikan penolakan terhadap LGBT sebagai bentuk diskriminasi, liputan yang mengangkat kisah pasangan sesama jenis dengan framing yang penuh empati dan kekaguman, hingga konten yang secara terbuka mengkritik ajaran agama yang melarang homoseksualitas. Semuanya dibungkus dengan bahasa akademis yang terdengar masuk akal, yang membuat pembaca โ terutama mahasiswa yang haus wacana โ sulit menyadari bahwa mereka sedang diarahkan.
Feminis Indonesia bermain di ranah yang sama, dengan jangkauan yang lebih luas karena formatnya yang lebih ringan dan mudah dikonsumsi. Konten-kontennya mengkampanyekan penerimaan terhadap berbagai orientasi seksual dengan bahasa kemanusiaan yang terasa tidak bisa dibantah, karena siapa yang mau tampak tidak manusiawi? Itulah kecerdikan strategi ini. Ia tidak menyerang nilai-nilaimu secara frontal. Ia melunakinya perlahan, sampai kamu tidak sadar kapan kamu mulai berpikir bahwa ini semua masuk akal.
Keduanya hanyalah sedikit contoh dari banyak lagi lainnya akun media sosial dan pihak-pihak yang mendukung LGBT yang menyebarkan propaganda normalisasi LGBT.
Dan ketika seorang mahasiswa 19 tahun mengakhiri perjalanan panjang paparan konten itu dengan duduk berduaan di selasar kampus bersama seseorang yang ia kenal dari media sosial โ apakah kita benar-benar percaya bahwa semua itu terjadi begitu saja, tanpa pembentukan yang mendahuluinya?
Dua Hal yang Harus Dilakukan Sekarang
Pertama, ya, kawal sanksi untuk mahasiswa yang terlibat. Penegakan tata tertib dan norma kampus itu penting, dan BEM PNJ benar menuntut transparansi dan ketegasan dari institusi. Biarkan proses itu berjalan.
Tapi kedua โ dan ini yang lebih mendesak, lebih jangka panjang, dan sayangnya paling sering diabaikan โ kita perlu secara serius, aktif, dan tidak lelah melawan propaganda normalisasi LGBT yang terus diproduksi dan disebarkan oleh pihak-pihak pendukungnya.
Ini berarti mengkritisi dan mengkonter narasi normalisasi ketika kita menemuinya di media sosial, bukan hanya menggumam tidak setuju lalu lanjut scroll. Ini berarti mendesak platform dan regulator agar tidak menjadi saluran bebas bagi konten yang merusak fondasi moral generasi muda. Ini berarti memperkuat pendidikan akidah dan karakter โ di rumah, di sekolah, di masjid โ bukan hanya mengandalkan sidang disiplin kampus sebagai garis pertahanan terakhir. Dan ini berarti membangun generasi yang punya literasi cukup untuk mengenali ketika sebuah narasi sedang membentuk cara berpikirnya.
Musuh Sesungguhnya
Kasus PNJ ini bukan sekadar soal dua orang yang melanggar tata tertib kampus. Ini adalah gejala dari sesuatu yang lebih dalam dari sebuah pertarungan nilai yang diam-diam sudah berlangsung lama di ruang digital yang kita dan anak-anak muda kita huni setiap hari.
Mahasiswa 19 tahun itu perlu menghadapi konsekuensi dari pilihannya. Tapi kita juga perlu jujur pada diri sendiri: selama mesin yang membentuknya dibiarkan terus berjalan tanpa perlawanan, akan ada mahasiswa-mahasiswa berikutnya. Di PNJ lain. Di kota lain. Mungkin di lingkungan kita sendiri.
Mengadili pelaku adalah kewajiban. Tapi hanya mengadili pelaku, tanpa menyentuh sistem yang melahirkannya, itu bukan solusi akhir. Itu hanya kepuasan sesaat.