Berita

Wamenlu Sebut Butuh Narasi Baru Dalam Diplomasi Antarbangsa untuk Redam Islamofobia

Logo

Posted by: Niesky H.P

16 July 2026 21:10 WIB โ€ข 358 view

Wamenlu Sebut Butuh Narasi Baru Dalam Diplomasi Antarbangsa untuk Redam Islamofobia
Foto: Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta ( Foto : Humas SAJID )

Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta menilai dunia membutuhkan narasi baru dalam hubungan antarbangsa untuk meredam islamofobia, prasangka antaragama dan pemanfaatan identitas keagamaan sebagai instrumen konflik geopolitik.



" Yang kita khawatirkan adalah pemanfaatan isu agama sebagai instrumen dalam konflik geopolitik," ujar menyatakan pemerintah tengah dorong Integrasi Ekonomi dan Politik dengan Negara-negara Islam. Bukan hanya sebatas hubungan sejarah, agama, dan budaya, tetapi juga integrasi di bidang ekonomi dan politik.

ADSPromosikan Video Profil Sekolah, Informasi PPDB, Yayasan, Lembaga, Usaha, Bisnis, Produk di Moslem Today TV Channel, KLIK DISINI

โ€œUpgrade hubungan Indonesia dengan negara-negara Islam itu bukan hanya dalam pengertian hubungan sejarah, hubungan agama, hubungan budaya. Ke level yang lebih tinggi supaya kita lebih terintegrasi dengan negara-negara Islam itu secara ekonomi dan juga secara politikyang diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid) di Gedung Konstitusi, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Kamis 16 Juli 2026.


Dalam kegiatan yang diikuti sekitar 50 jurnalis dari berbagai media tersebut , politisi Partai Gelora tersebut juga mengatakan bahwa etakutan terhadap suatu ideologi, negara, maupun agama kerap direkayasa menjadi instrumen politik untuk membangun persepsi ancaman. 


Sehingga , Fenomena itu, sambungnya tampak dalam berbagai bentuk, mulai dari ketakutan terhadap China, Rusia, hingga Islam.

Karena itu, lanjutnya, diplomasi Indonesia tengah mengembangkan kerja sama dengan sejumlah negara untuk membangun narasi yang memungkinkan masyarakat saling memahami latar belakang agama masing-masing tanpa merasa saling terancam.


Anis mencontohkan, Kementerian Luar Negeri sedang menjajaki kerja sama dengan utusan khusus Belanda untuk urusan kebebasan beragama sebagai bagian dari upaya melawan berbagai bentuk fobia yang lahir dari residu sejarah.


Ia bahkan mengusulkan agar pameran mengenai Syekh Yusuf Al-Makassari tidak hanya digelar di Kedutaan Besar Belanda, tetapi juga di Benteng Rotterdam, Gowa, Sulawesi Selatan. Menurutnya, langkah itu dapat menjadi simbol sejarah bersama yang mendorong rekonsiliasi dan mengurangi beban masa lalu.


"Supaya kita sama-sama punya sejarah dan mulai melupakan residu-residu itu. Kalau residu sejarah terus hidup dalam memori kita, kita akan sulit bekerja sama," katanya.


Dalam paparannya, Anis juga mengajak peserta melihat keterhubungan sejarah dunia. Ia menyinggung jatuhnya Konstantinopel pada 1453, berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia pada 1492, hingga kedatangan Portugis ke Nusantara pada 1511 sebagai rangkaian peristiwa yang saling berkaitan dalam perubahan geopolitik global.


Menurut dia, keterhubungan dunia pada era modern bahkan jauh lebih cepat sehingga dampak konflik di suatu kawasan dapat dirasakan secara langsung oleh negara lain.


"Dengan cara pandang seperti ini, kita punya tugas menciptakan narasi baru yang membantu kita memahami persoalan secara lebih utuh," ujarnya.


Dalam kesempatan itu, Anis juga menyoroti peran media. Ia menegaskan pemberitaan tidak semestinya diukur dari kesesuaiannya dengan arah kebijakan pemerintah. Sebaliknya, media merupakan instrumen sosial yang mendorong lahirnya diskursus publik.. "Pemerintah seharusnya mendengarkan perdebatan publik dan memahami denyut nadi masyarakat," pungkasnya ..

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!