Arab Saudi

Arab Saudi Punya Sistem Pertahanan Udara Canggih, Kenapa Rudal Houthi Masih Bisa Tembus?

Deli Hermanto

Posted by: Deli Hermanto

13 October 2026 20:00 โ€ข 120 view

Arab Saudi Punya Sistem Pertahanan Udara Canggih, Kenapa Rudal Houthi Masih Bisa Tembus?
Foto: Why are Houthi missiles breaking through Saudi Arabiaโ€™s air defences?. AFP


RIYADH โ€“ Serangan rudal yang dikaitkan dengan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara secanggih apa pun tidak menjamin seluruh ancaman dapat dicegat. Luas wilayah kerajaan, keterbatasan persediaan rudal pencegat, serta kemampuan lawan meluncurkan berbagai jenis senjata secara bersamaan menjadi tantangan besar bagi pertahanan udara Riyadh.


ADSPromosikan Video Profil Sekolah, Informasi PPDB, Yayasan, Lembaga, Usaha, Bisnis, Produk di Moslem Today TV Channel, KLIK DISINI

Arab Saudi merupakan operator sistem pertahanan udara Patriot terbesar kedua di dunia. Namun, serangan yang menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu (10/10) memperlihatkan bahwa masih terdapat celah dalam perlindungan terhadap serangan rudal dan pesawat nirawak.


Menurut Nawaf Obaid dari Departemen Studi Perang King's College London, Arab Saudi sebenarnya memiliki arsitektur pertahanan udara dan rudal terintegrasi yang sangat canggih. Sistem tersebut dirancang untuk melindungi wilayah kerajaan yang luasnya bahkan melampaui Eropa Barat.


โ€œArab Saudi tidak kekurangan pertahanan udara,โ€ ujar Obaid kepada The National. Ia menilai, sesekali lolosnya proyektil dari sistem pertahanan merupakan risiko yang sulit dihindari, terutama ketika menghadapi serangan berulang dari berbagai arah.


Obaid menjelaskan bahwa sistem pertahanan berlapis sekalipun tidak dapat menjamin seluruh rudal akan berhasil dicegat. Dalam menghadapi puluhan serangan, sebagian besar ancaman mungkin dapat dihancurkan, tetapi satu atau beberapa proyektil tetap berpotensi menembus pertahanan.


Kombinasi Rudal dan Drone Menjadi Tantangan


Salah satu tantangan utama yang dihadapi Arab Saudi adalah strategi Houthi yang mengombinasikan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak. Penggunaan berbagai jenis senjata dengan kecepatan dan karakteristik penerbangan berbeda dapat mempersulit sistem pertahanan dalam mendeteksi, melacak, serta menentukan prioritas pencegatan.


Sejak intervensi militer di Yaman pada 2015, Houthi telah meluncurkan ratusan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi. Kelompok yang didukung Iran tersebut juga dilaporkan mengembangkan kemampuan persenjataan yang memungkinkan serangan menjangkau sasaran jauh di luar wilayah Yaman.


Di antara persenjataan yang dikaitkan dengan Houthi adalah rudal balistik jarak menengah Palestine-2. Rudal berbahan bakar padat dengan dua tahap tersebut diperkirakan memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer dan diklaim memiliki kemampuan hipersonik.


Jenis lainnya adalah Toufan, yang dinilai memiliki kemiripan dengan rudal Ghadr buatan Iran. Jangkauannya diperkirakan berada pada kisaran 1.350 hingga 1.950 kilometer.


Jangkauan tersebut memungkinkan Houthi mengancam sasaran strategis yang berada jauh dari wilayah Yaman. Sejumlah rudal yang digunakan kelompok itu juga dilaporkan membawa hulu ledak tandan atau cluster warhead, yang dapat menyebarkan sejumlah submunisi di area sasaran.


Selain rudal jarak menengah, Houthi memiliki sejumlah rudal jarak pendek, termasuk seri Burkan dan Badr, yang juga dikaitkan dengan teknologi persenjataan Iran.


Obaid menilai, sebagian besar persenjataan rudal Houthi berasal dari teknologi Iran, dengan sejumlah pengaruh teknologi China. Menurutnya, bukti inovasi teknologi mandiri kelompok tersebut masih terbatas, terutama di luar produksi rudal dan drone dengan kemampuan yang relatif sederhana.


Pemerintah Yaman sebelumnya juga menuduh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membantu Houthi mengembangkan kemampuan baru berupa rudal jelajah yang dapat berputar-putar di sekitar area sasaran sebelum menyerang. Namun, tuduhan tersebut belum dapat dipastikan secara independen.


Persediaan Rudal Pencegat Semakin Tertekan


Selain menghadapi perkembangan persenjataan lawan, Arab Saudi juga harus memperhitungkan keterbatasan stok rudal pencegat. Sistem pertahanan udara seperti Patriot dan THAAD membutuhkan amunisi khusus yang tidak dapat diproduksi atau diganti dalam waktu singkat.


Wolfgang Pusztai, analis kebijakan keamanan dan pertahanan, mengatakan bahwa sistem pertahanan rudal balistik Arab Saudi selama ini terutama diarahkan untuk menghadapi ancaman dari Iran. Meningkatnya serangan Houthi berpotensi memaksa Riyadh mengalihkan sebagian sumber daya pertahanannya untuk menghadapi ancaman dari Yaman.


Persoalan tersebut semakin kompleks karena Amerika Serikat dan sejumlah sekutunya juga menghadapi tekanan terhadap persediaan rudal pencegat setelah penggunaannya dalam konflik dengan Iran.


Analis militer Francis Tusa menyebutkan bahwa dalam salah satu serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, diperkirakan hingga 80 rudal Patriot ditembakkan hanya dalam satu malam. Penggunaan amunisi dalam jumlah besar seperti itu dapat mempercepat penurunan stok yang tersedia.


Dalam laporan The National, Amerika Serikat diperkirakan telah menggunakan sekitar 1.500 rudal pencegat Patriot dan masih memiliki sekitar 800 unit. Sementara itu, Arab Saudi sebelumnya dilaporkan mempunyai lebih dari 1.800 rudal pencegat Patriot, tetapi sebagian telah digunakan untuk menghadapi ancaman dari Iran dan Houthi.


Angka-angka tersebut merupakan perkiraan yang dikutip dalam laporan media dan tidak menunjukkan secara pasti jumlah persediaan operasional terkini masing-masing negara.


Tusa menilai, tekanan terhadap persediaan amunisi menjadi salah satu persoalan mendasar dalam perang modern. Sistem pertahanan udara berteknologi tinggi tidak hanya membutuhkan radar dan peluncur, tetapi juga pasokan rudal pencegat yang memadai untuk menghadapi serangan berulang.


Patriot dan THAAD Tidak Bisa Melindungi Semua Wilayah


Arab Saudi mengandalkan sejumlah sistem pertahanan udara untuk membangun perlindungan berlapis. Selain Patriot buatan Amerika Serikat, kerajaan tersebut juga mengembangkan program pengadaan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), yang dirancang untuk mencegat rudal balistik pada ketinggian tinggi.


Arab Saudi diketahui berencana membeli tujuh baterai THAAD, menjadikannya salah satu program pengadaan terbesar di luar Amerika Serikat.


Sistem lainnya adalah KM-SAM buatan Korea Selatan, yang dirancang untuk menghadapi pesawat dan rudal pada jarak menengah. Berbagai sistem tersebut memiliki fungsi berbeda dan dapat saling melengkapi dalam menghadapi ancaman udara.


Namun, kemampuan teknis tidak menghilangkan persoalan geografis. Sebagai negara dengan wilayah luas dan infrastruktur strategis yang tersebar, Arab Saudi harus menentukan lokasi penempatan radar, peluncur, dan pusat komando secara cermat.


Tusa menjelaskan bahwa satu unit baterai Patriot biasanya terdiri atas satu atau dua radar, dua sistem komando, serta empat hingga enam peluncur rudal. Kebutuhan perangkat dan personel yang besar membuat pembangunan perlindungan menyeluruh terhadap seluruh wilayah menjadi tantangan tersendiri.


Ketika sebagian besar sumber daya dikerahkan untuk melindungi satu fasilitas, kawasan strategis lainnya berisiko memperoleh perlindungan lebih sedikit.


Robert Tollast, analis militer dari Royal United Services Institute (RUSI), memperingatkan bahwa pengerahan terlalu banyak sistem pertahanan ke satu lokasi dapat membuat fasilitas penting lainnya lebih rentan. Infrastruktur energi, misalnya, tetap membutuhkan perlindungan karena kerusakan pada fasilitas tersebut dapat menimbulkan dampak ekonomi dan keamanan yang luas.


Inggris Diminta Memperkuat Dukungan Pertahanan


Di tengah meningkatnya ancaman, Arab Saudi juga mencari dukungan pertahanan dari mitra internasional. Menurut laporan The National, Riyadh telah meminta tambahan bantuan pertahanan kepada Kementerian Pertahanan Inggris dalam beberapa pekan menjelang serangan terbaru. Namun, permintaan tersebut dilaporkan belum memperoleh persetujuan di tingkat menteri.


Inggris sebelumnya telah berkontribusi melalui sistem Sky Sabre, yang menyediakan lapisan pertahanan jarak menengah dengan menggunakan rudal Common Anti-Air Modular Missile (CAMM), radar pengawasan, serta sistem komando dan kendali terintegrasi.


Industri pertahanan Inggris juga memiliki sejumlah pilihan untuk menghadapi ancaman jarak dekat, termasuk rudal Starstreak dengan jangkauan sekitar 8โ€“9 kilometer dan rudal Martlet yang relatif lebih murah.


Meski demikian, sistem pertahanan jarak dekat tidak dapat dipasang secara praktis di setiap fasilitas sipil dan militer. Para perencana pertahanan harus mempertimbangkan biaya, ketersediaan amunisi, jangkauan sistem, serta tingkat ancaman di masing-masing lokasi.


Analis pertahanan Lynette Nusbacher juga mempertanyakan anggapan bahwa setiap bandara komersial harus dilengkapi sistem pertahanan udara jarak dekat. Menurutnya, bandara-bandara besar di negara Barat pun umumnya tidak dilindungi dengan sistem pencegat militer khusus pada jarak dekat.


Namun, meningkatnya ancaman terhadap fasilitas sipil di kawasan Teluk kini mendorong evaluasi ulang mengenai cara melindungi infrastruktur penting.


Pencegatan Sebelum Peluncuran Menjadi Alternatif


Selain memperkuat pertahanan udara, peningkatan kemampuan intelijen menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi ancaman. Arab Saudi dapat memperkuat pemantauan terhadap lokasi peluncuran dan pergerakan persenjataan lawan agar ancaman dapat diidentifikasi lebih awal.


Dalam kondisi tertentu, menghancurkan peluncur sebelum rudal ditembakkan dapat mengurangi tekanan terhadap sistem pencegat. Pendekatan ini, bagaimanapun, bergantung pada kualitas informasi intelijen, kemampuan pengawasan, serta keputusan operasional dan hukum yang berlaku.


Sementara itu, produsen pertahanan Amerika Serikat berupaya meningkatkan produksi rudal pencegat untuk mengganti persediaan yang telah digunakan. Namun, menurut perkiraan yang dikutip dalam laporan tersebut, pemulihan stok dapat memerlukan waktu hingga 30 bulan.


Nusbacher menilai, konflik berkepanjangan telah memperlihatkan persoalan yang sebelumnya kurang diperhitungkan dalam perencanaan pertahanan, yakni penggunaan amunisi pertahanan udara berteknologi tinggi dalam jumlah sangat besar selama perang yang berlangsung lebih dari beberapa pekan.


Serangan terhadap Riyadh pada akhirnya menunjukkan bahwa kecanggihan sistem pertahanan udara harus diimbangi dengan jumlah amunisi yang cukup, jaringan radar yang luas, intelijen yang akurat, serta strategi penempatan yang tepat.


Bagi Arab Saudi, tantangannya bukan sekadar memiliki sistem pertahanan udara modern, melainkan memastikan sistem tersebut mampu menghadapi serangan berulang tanpa mengorbankan perlindungan terhadap wilayah dan infrastruktur strategis lainnya.


Sumber : https://www.aljazeera.com/news/2026/10/11/why-are-houthi-missiles-breaking-through-saudi-arabias-air-defences

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel, Daftar Jadi Kontributor, Klik : Register

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Ahlan Wa Sahlan...

Dapatkan akses fitur lengkap dengan login atau mendaftar akun baru.

Daftar Sekarang