Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi menandatangani kesepakatan damai dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) yang bertujuan mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Kesepakatan tersebut diteken lebih cepat dari jadwal yang sebelumnya direncanakan dan langsung berlaku setelah ditandatangani secara elektronik oleh kedua pihak.
Laporan Axios yang dikutip pada Kamis (18/6/2026) menyebutkan bahwa dokumen kesepakatan telah ditandatangani secara elektronik dan kini resmi berlaku. Seorang pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump secara langsung menandatangani dokumen tersebut, menandai langkah besar menuju deeskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, penandatanganan MoU dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat. Namun, sejumlah sumber diplomatik menyebut Washington dan Teheran sepakat mempercepat proses setelah mencapai kesepahaman mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur laut tersebut memiliki peran vital karena menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa kedua negara telah menyetujui mekanisme penandatanganan elektronik oleh masing-masing presiden. Meski demikian, pertemuan resmi antara delegasi kedua negara di Swiss tetap akan berlangsung sesuai jadwal sebagai bagian dari proses diplomatik lanjutan.
Delegasi Amerika Serikat akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf. Pertemuan tersebut diperkirakan menjadi tahap awal menuju perundingan yang lebih komprehensif, termasuk pembahasan mengenai program nuklir Iran yang selama ini menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan kedua negara.
Di tengah euforia atas tercapainya kesepakatan, muncul perbedaan versi terkait waktu penandatanganan dokumen. Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengklaim bahwa perjanjian sebenarnya telah ditandatangani secara elektronik sejak Minggu oleh Presiden Trump, Wakil Presiden Vance, dan Mohammad-Bagher Ghalibaf.
Namun, sejumlah sumber diplomatik yang terlibat dalam proses mediasi membantah klaim tersebut. Sumber lain yang mengetahui jalannya negosiasi menyebut memang terdapat penandatanganan sebelumnya dan proses terbaru merupakan "penandatanganan kedua" untuk memperkuat legitimasi dokumen.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai alasan perlunya dua kali penandatanganan terhadap dokumen yang sama. Axios melaporkan bahwa Trump menandatangani dokumen terbaru saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles usai rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7.
Seorang pejabat senior AS mengatakan konsesi yang diberikan Iran dalam MoU tersebut merupakan kemenangan besar bagi Washington. Dalam penjelasannya kepada wartawan, dua pejabat senior Amerika mengungkapkan bahwa kesepakatan tersebut memuat 14 poin utama yang menjadi dasar penghentian konflik dan pembentukan kerangka kerja baru hubungan kedua negara.
Kesepakatan damai ini dipandang sebagai terobosan diplomatik paling signifikan dalam hubungan AS-Iran dalam beberapa tahun terakhir. Selain membuka jalan bagi normalisasi lalu lintas perdagangan energi melalui Selat Hormuz, perjanjian tersebut juga diharapkan menjadi fondasi bagi negosiasi lebih lanjut mengenai masa depan program nuklir Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Sumber : https://english.alarabiya.net/News/middle-east/2026/06/18/president-trump-has-signed-iran-deal-us-official