Nasehat Opini

Moscovici, Dakwah Islam, dan Pertarungan Narasi

Logo

Posted by: Adithya Fahmi Rifanka

30 September 2026 08:31 WIB โ€ข 6 view

Moscovici, Dakwah Islam, dan Pertarungan Narasi
Foto: Image generated by Gemini AI

Pada 1969, psikolog Serge Moscovici dan rekan-rekannya meminta peserta eksperimen menilai warna sejumlah slide. Beberapa orang yang sebenarnya bagian dari tim peneliti secara konsisten menyebut warna biru sebagai hijau. Sebagian besar peserta tetap pada penilaian mereka, tetapi jawaban yang konsisten itu ternyata memengaruhi sebagian kecil peserta lain. Efeknya memang tidak besar, tetapi cukup untuk menunjukkan sesuatu yang penting: minoritas tidak harus menjadi mayoritas terlebih dahulu untuk memberikan pengaruh.


Yang menarik bukan sekadar bahwa seseorang dapat dipengaruhi untuk memberikan jawaban yang berbeda. Lebih jauh dari itu, eksperimen tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah pandangan yang awalnya menyimpang dari konsensus dapat memaksa orang lain untuk setidaknya memperhatikannya.


Salah satu kuncinya adalah konsistensi.


Sebuah pandangan yang hanya muncul sekali mungkin mudah diabaikan. Namun ketika pandangan yang sama terus muncul dengan pola yang relatif konsisten, ia menjadi semakin sulit untuk dianggap sebagai suara yang tidak penting. Orang mungkin belum menerimanya, tetapi mereka mulai berpikir: โ€œMengapa mereka terus mengatakan hal yang sama?โ€


Di sinilah saya melihat relevansinya dengan dakwah Islam dan pertarungan narasi antarideologi.


Dalam kehidupan sosial, manusia tidak hanya berhadapan dengan fakta, tetapi juga dengan berbagai cara untuk menafsirkan fakta tersebut. Satu peristiwa yang sama dapat dijelaskan melalui kerangka agama, liberalisme, sekularisme, nasionalisme, materialisme, atau kerangka lainnya. Masing-masing menawarkan bukan hanya jawaban, tetapi juga cara menentukan pertanyaan apa yang perlu diajukan. Karena itu, pertarungan ideologi tidak selalu berlangsung dalam bentuk debat terbuka. Ia juga berlangsung melalui narasi yang terus hadir dalam kehidupan sehari-hari: buku, pendidikan, film, media sosial, percakapan, pemberitaan, hingga bahasa yang digunakan untuk menggambarkan suatu persoalan.


Sebuah gagasan yang terus-menerus hadir memperoleh satu keuntungan sederhana: ia menjadi sesuatu yang diketahui keberadaannya.


Misalnya, sebuah pandangan keislaman tertentu pada awalnya hanya dianggap sebagai pendapat segelintir orang. Jika pandangan itu terus disampaikan dengan argumen yang konsisten melalui tulisan, kajian, pendidikan, dan berbagai medium lainnya, orang mungkin mulai menyadari bahwa ada alternatif terhadap cara berpikir yang selama ini mereka anggap sebagai satu-satunya kemungkinan.


Dari: โ€œSaya tidak pernah mendengar pandangan itu.โ€ menjadi: โ€œSaya tahu ada pandangan seperti itu.โ€ Lalu mungkin: โ€œMenarik. Apa alasannya?โ€


Dan pada sebagian orang, proses itu bisa berlanjut menjadi penerimaan.


Namun, logika ini tentu tidak hanya berlaku bagi dakwah Islam.


Jika minoritas yang konsisten dapat membuat sebuah gagasan yang semula berada di pinggir masuk ke dalam perhatian mayoritas, maka mekanisme yang sama secara teoritis dapat bekerja pada gagasan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.


Di sini ada satu hal yang perlu diperjelas. Ketika berbicara tentang โ€œminoritasโ€ dan โ€œmayoritasโ€, yang dimaksud tidak selalu adalah jumlah penduduk atau identitas demografis. Dalam konteks Indonesia, umat Islam merupakan mayoritas secara demografis. Namun, sebuah gagasan yang berasal dari perspektif Islam tetap dapat berada pada posisi minoritas dalam ruang sosial tertentuโ€”misalnya dalam komunitas, lingkungan akademik, media, atau percakapan publik tertentu. Sebaliknya, sebuah gagasan yang dianut oleh kelompok yang secara demografis lebih kecil dapat memperoleh visibilitas yang besar dalam ruang publik.


Dengan demikian, pertarungan narasi tidak sesederhana pertarungan antara โ€œmayoritas Muslimโ€ dan โ€œminoritas non-Muslimโ€. Yang lebih penting adalah posisi sebuah gagasan dalam ruang sosial: apakah ia dominan, marginal, semakin dikenal, atau mulai memperoleh penerimaan.


Karena itu, umat Islam juga perlu memahami bahwa sebuah narasi tidak harus menjadi pandangan mayoritas terlebih dahulu untuk memperoleh pengaruh. Narasi mengenai seksualitas, misalnya, dapat memperoleh ruang dan mengalami perubahan penerimaan sosial melalui berbagai saluran: pendidikan, media, film, hiburan, media sosial, bahasa, maupun representasi tokoh-tokoh publik. Sesuatu yang pada suatu masa dianggap asing dapat perlahan menjadi sesuatu yang semakin dikenal, semakin sering dibicarakan, lalu pada sebagian masyarakat menjadi semakin dapat diterima.


Ini tidak berarti setiap perubahan norma sosial merupakan hasil dari sebuah konspirasi yang dirancang secara terpusat. Perubahan norma biasanya jauh lebih kompleks daripada itu. Namun, dari perspektif psikologi sosial, umat Islam tetap perlu menyadari bahwa konsistensi, visibilitas, dan kehadiran berulang sebuah narasi dapat mengubah apa yang dianggap familiar, layak dibicarakan, dan pada akhirnya dapat dipertimbangkan. Maka, respons terhadap narasi yang bertentangan dengan Islam tidak cukup hanya dengan mengatakan: โ€œItu kan pendapat minoritas.โ€


Justru karena sebuah gagasan dapat berkembang dari posisi yang semula marginal menjadi bagian dari percakapan arus utama, ia perlu dihadapi pada tingkat gagasan: dipahami argumennya, diuji premisnya, dijelaskan posisi Islam terhadapnya, dan dihadirkan alternatif yang koheren.


Di sinilah media sosial menjadi semakin penting.


Media sosial memungkinkan sebuah suara yang secara demografis kecil memperoleh visibilitas yang jauh lebih besar daripada yang mungkin diperolehnya dalam interaksi sosial biasa. Sebuah gagasan dapat muncul berulang kali di hadapan orang yang sama, dibicarakan oleh banyak akun, dikemas dalam berbagai bentuk, dan akhirnya menjadi bagian dari lingkungan informasi sehari-hari seseorang.


Tentu saja, visibilitas tidak sama dengan kebenaran. Sesuatu yang sering muncul di feed kita bukan berarti sesuatu yang benar. Tetapi frekuensi kemunculan dapat membuat sebuah gagasan menjadi familiar, dan familiaritas sendiri dapat memengaruhi bagaimana manusia memproses suatu informasi.


Di sinilah kita perlu berhati-hati. Kemampuan sebuah narasi memengaruhi manusia tidak membuktikan bahwa narasi tersebut benar.


Konsistensi dapat membuat sebuah gagasan lebih terlihat dan lebih diperhitungkan, tetapi konsistensi tidak secara otomatis mengubah kebatilan menjadi kebenaran.


Kalau sebuah kebohongan terus diulang, memang mungkin sebagian orang akhirnya mempercayainya. Tetapi dari sudut pandang epistemologi, pengulangan tidak menambah kebenaran pada proposisi tersebut. Sebaliknya, sebuah gagasan yang benar pun dapat gagal memengaruhi masyarakat apabila ia disampaikan secara sporadis, tidak koheren, atau tidak pernah hadir secara cukup kuat dalam ruang sosial.


Dengan kata lain, pengaruh dan kebenaran adalah dua persoalan yang berbeda.


Psikologi sosial dapat membantu menjelaskan bagaimana manusia dipengaruhi oleh sebuah gagasan. Tetapi mekanisme psikologis tersebut tidak dengan sendirinya menentukan apakah gagasan itu benar. Maka, bagi dakwah, persoalannya bukan sekadar bagaimana โ€œmembuat orang percayaโ€, melainkan bagaimana menghadirkan alternatif pemikiran secara konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.


Dakwah dalam pengertian ini bukan hanya mengatakan, โ€œIni hukumnya.โ€ Ia juga dapat berarti menunjukkan bahwa suatu persoalan ternyata dapat dilihat melalui kerangka yang berbeda.


Misalnya, ketika manusia dipahami semata-mata sebagai makhluk biologis, Islam menawarkan konsep manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi jasmani sekaligus ruhani. Ketika moralitas dipahami terutama sebagai hasil kesepakatan sosial, Islam menawarkan kerangka moral yang dikaitkan dengan wahyu, fitrah, dan pertanggungjawaban kepada Tuhan. Ketika kebahagiaan didefinisikan terutama melalui kenikmatan dan keberhasilan duniawi, Islam menawarkan konsepsi yang berbeda tentang tujuan hidup.


Tentu saja, masing-masing klaim tersebut tetap harus diperdebatkan dan diuji. Tetapi sebelum sebuah gagasan dapat dipertimbangkan, ia harus terlebih dahulu hadir sebagai alternatif yang dapat dilihat. Karena itu, umat Islam tidak cukup hanya merasa aman karena secara demografis berada di posisi mayoritas. Mayoritas secara jumlah tidak selalu berarti mayoritas dalam produksi, sirkulasi, dan visibilitas narasi.


Sebuah masyarakat dapat memiliki mayoritas Muslim, tetapi generasi mudanya tetap setiap hari berhadapan dengan berbagai kerangka pemikiran melalui layar yang mereka genggam. Di ruang itu, sebuah gagasan tidak ditanya terlebih dahulu berapa banyak penganutnya. Ia cukup hadir, menarik perhatian, diulang, dibicarakan, dan diperdebatkan.


Di sinilah minoritas memiliki peran yang menarik. Minoritas yang konsisten dapat mengganggu apa yang sebelumnya tampak sebagai konsensus yang tidak perlu dipertanyakan. Ia membuat mayoritas menyadari bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang โ€œnormalโ€ atau โ€œsudah jelasโ€ sebenarnya merupakan salah satu cara melihat realitas, bukan satu-satunya cara yang mungkin.


Namun, ada perbedaan penting antara konsistensi dan propaganda.


Konsistensi berarti mempertahankan suatu gagasan secara koheren sambil tetap membuka ruang bagi pemeriksaan dan kritik. Propaganda dapat memanfaatkan pengulangan tanpa peduli apakah klaimnya benar atau tidak.


Karena itu, jika eksperimen Moscovici hendak dibawa ke dalam konteks dakwah, pelajaran yang lebih menarik bukanlah โ€œulangilah sesuatu sampai orang percaya.โ€ Pelajarannya justru: Sebuah gagasan tidak harus menjadi mayoritas untuk memiliki pengaruh. Konsistensi dapat membuat pandangan yang semula berada di pinggir masuk ke dalam perhatian masyarakat.


Dan pelajaran itu berlaku dua arah.


Umat Islam tidak seharusnya menganggap remeh sebuah narasi hanya karena narasi tersebut belum menjadi pandangan mayoritas. Pada saat yang sama, umat Islam juga tidak perlu takut terhadap kemunculan sebuah narasi hanya karena ia semakin terlihat. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk memahami bagaimana narasi tersebut bekerja sekaligus menguji apakah klaim yang dibawanya memiliki dasar yang kuat.


Karena itu, pekerjaan dakwah bukan hanya memperbanyak suara Islam, tetapi juga membangun kapasitas intelektual umat untuk memahami dan menguji berbagai gagasan yang masuk ke ruang sosial. Sebab pada akhirnya, pertarungan narasi bukan semata-mata soal siapa yang hari ini menjadi mayoritas dan siapa yang menjadi minoritas. Pertanyaannya adalah: gagasan apa yang terus hadir, bagaimana ia hadir, dan apakah masyarakat memiliki kemampuan untuk menguji gagasan tersebut secara kritis?


Dan di situlah tantangan dakwah menjadi lebih berat. Bukan sekadar membuat suara Islam terdengar di tengah kebisingan berbagai ideologi, tetapi membuat suara itu cukup konsisten untuk diperhatikan, cukup terbuka untuk diuji, dan cukup kuat secara argumentatif untuk layak dipertimbangkan.


Karena menjadi minoritas bukan berarti tidak memiliki pengaruh. Tetapi memiliki pengaruh juga bukan berarti telah memiliki kebenaran.

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel
TAGS:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!