Berita Internasional

Presiden Israel Perintahkan Gadi Eisenkot Bentuk Pemerintahan Baru, Netanyahu Kalah?

Deli Hermanto

Posted by: Deli Hermanto

08 November 2026 18:40 • 39 view

Presiden Israel Perintahkan Gadi Eisenkot Bentuk Pemerintahan Baru, Netanyahu Kalah?
Foto: Istimewa

ISRAEL – Presiden Israel Isaac Herzog akan memberikan mandat kepada Ketua Partai Yashar, Gadi Eisenkot, untuk membentuk pemerintahan baru. Keputusan ini menjadi pukulan politik bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang gagal memperoleh dukungan mayoritas dalam pemilihan parlemen Israel.


Juru bicara Presiden Herzog pada Sabtu menyampaikan bahwa Herzog telah memberitahukan niatnya kepada Eisenkot untuk memberikan mandat pembentukan pemerintahan. Penyerahan mandat secara resmi dijadwalkan berlangsung di kediaman presiden pada Minggu pukul 17.00 waktu setempat atau 15.00 GMT.

ADSPromosikan Video Profil Sekolah, Informasi PPDB, Yayasan, Lembaga, Usaha, Bisnis, Produk di Moslem Today TV Channel, KLIK DISINI


Keputusan tersebut diambil setelah Herzog melakukan konsultasi dengan berbagai faksi politik yang memiliki perwakilan di parlemen Israel (Knesset).


Dalam konsultasi tersebut, faksi-faksi yang mewakili 67 anggota Knesset merekomendasikan agar mandat pembentukan pemerintahan diberikan kepada Eisenkot. Sementara itu, sebanyak 46 anggota parlemen mendukung Netanyahu untuk kembali membentuk pemerintahan. Adapun satu faksi yang memiliki tujuh kursi memilih tidak merekomendasikan kandidat mana pun.


Juru bicara Herzog mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, presiden telah menggelar pembicaraan mendalam dengan sejumlah tokoh dari berbagai spektrum politik, termasuk Netanyahu dan Eisenkot.


Sebelumnya, pada Kamis, Herzog menyatakan masih akan melakukan pembicaraan tambahan sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, jumlah rekomendasi dukungan saja tidak cukup untuk menentukan siapa yang paling mampu membentuk pemerintahan, mengingat masih terdapat perbedaan pandangan dan persaingan tuntutan terkait pembagian posisi kabinet.


Eisenkot Harus Menggalang Koalisi


Pemilihan parlemen Israel yang berlangsung pada 27 Oktober lalu tidak menghasilkan satu blok politik pun yang berhasil memperoleh mayoritas mutlak. Untuk menguasai pemerintahan, sebuah blok membutuhkan sedikitnya 61 kursi dari total 120 kursi Knesset.


Partai Likud pimpinan Netanyahu memperoleh 27 kursi, sedangkan Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot mendapatkan 21 kursi. Selebihnya dibagi kepada sejumlah partai politik lainnya.


Hasil akhir pemilu menunjukkan blok pendukung Netanyahu menguasai 53 kursi, sedangkan partai-partai Israel yang menentangnya memperoleh 48 kursi. Dua daftar politik Arab, yakni Joint List dan United Arab List atau Ra'am, secara keseluruhan meraih 19 kursi.


Dengan demikian, gabungan partai-partai yang menentang Netanyahu memiliki 67 kursi dan secara bersama-sama merekomendasikan Eisenkot untuk menerima mandat pembentukan pemerintahan.


Namun, jalan Eisenkot untuk membentuk pemerintahan diperkirakan tidak mudah. Sejumlah partai besar dalam kelompok pendukungnya menolak pembentukan pemerintahan yang melibatkan partai-partai Arab.


Kondisi tersebut membuat Eisenkot harus mencari formula politik untuk mengamankan dukungan mayoritas di parlemen. Salah satu kemungkinan yang dapat ditempuh adalah membentuk pemerintahan minoritas dengan mengandalkan dukungan partai-partai di luar kabinet.


Di sisi lain, tujuh anggota parlemen dari partai ultra-Ortodoks United Torah Judaism memilih tidak memberikan rekomendasi kepada Netanyahu maupun Eisenkot. Sikap tersebut dilatarbelakangi perselisihan dengan sekutu politik mereka mengenai pengecualian kewajiban dinas militer bagi warga Yahudi ultra-Ortodoks.


Netanyahu Belum Sepenuhnya Tersingkir


Setelah menerima mandat resmi, Eisenkot memiliki waktu 28 hari untuk membentuk koalisi pemerintahan. Apabila membutuhkan waktu tambahan, Presiden Herzog dapat memberikan perpanjangan maksimal 14 hari.


Jika Eisenkot gagal membentuk pemerintahan dalam batas waktu tersebut, Israel berpotensi kembali memasuki babak konsultasi politik untuk menentukan langkah selanjutnya.


Sementara itu, pemerintahan Netanyahu akan tetap menjalankan tugas dalam kapasitas pemerintahan sementara hingga pemerintahan baru berhasil dibentuk.


Dengan demikian, meskipun Eisenkot memperoleh mandat pembentukan pemerintahan, hal tersebut belum secara otomatis berarti Netanyahu telah sepenuhnya tersingkir dari panggung kekuasaan. Keberhasilan Eisenkot sangat bergantung pada kemampuannya menyatukan berbagai kepentingan politik dan memperoleh dukungan mayoritas di Knesset.


Netanyahu sendiri merupakan salah satu perdana menteri dengan masa jabatan terpanjang dalam sejarah Israel. Ia pertama kali menjabat pada 1996 hingga 1999, kemudian kembali berkuasa pada 2009 sampai 2021. Setelah itu, ia kembali menjadi perdana menteri pada Desember 2022.


Selain menghadapi tekanan politik, Netanyahu juga masih menjalani proses persidangan di Israel sejak 2020 atas sejumlah tuduhan korupsi, termasuk penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan dalam tiga perkara berbeda. Netanyahu membantah seluruh tuduhan tersebut.


Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) juga menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait situasi di Jalur Gaza.


Perkembangan terbaru ini menjadi babak penting dalam dinamika politik Israel. Meski Netanyahu belum otomatis kehilangan kekuasaan, pemberian mandat kepada Eisenkot menunjukkan bahwa peta dukungan politik di Knesset tengah mengalami perubahan signifikan. *


Sumber : https://www.middleeastmonitor.com/20261108-israels-president-says-will-task-eisenkot-with-forming-next-government/

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel, Daftar Jadi Kontributor, Klik : Register

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Ahlan Wa Sahlan...

Ayo gabung jadi Penulis di Moslemtoday.com. Lewat tulisan, kita bisa menebar kebaikan dan menginspirasi banyak orang.

Daftar Sekarang