Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, budaya kerja harus dibangun dengan mengedepankan integritas. Selain itu, budaya lama yang berpotensi koruptif harus ditinggalkan serta perlu dibangun secara sadar dan menyeluruh di lingkungan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Hal ini disampaikan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI Dahnil Anzar Simanjuntak saat hadir dalam pembukaan agenda Sosialisasi Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) yang diselenggarakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
โ"Jika acara ini diselenggarakan hanya untuk penyerapan anggaran semata, maka sesungguhnya kita sudah melakukan gratifikasi itu sendiri," tegas Wamenhaj dalam sambutannya, sekaligus membuka agenda secara resmi di Bogor, Kamis (30/7/2026) melansir dari laman resmi Kemenhaj.
Dahnil juga menyampaikan mengenai pentingnya pembentukan karakter dan sistem di lingkungan Kemenhaj. Mengingat kementerian ini mengurus urusan peribadatan yang sangat fundamental bagi umat Islam, standar moral dan etika para pegawainya harus berada di tingkat tertinggi.
โ"Kita ingin bangun corporate culture, wajah utama Kemenhaj adalah integritas, karena kita ngurusin sesuatu yang suci, yang dalam konteks Islam adalah sesuatu yang paling sempurna. Kita ingin bangun sistem pengendalian internal yang kuat," ujarnya.
โSebagai wujud komitmen pimpinan dalam menciptakan birokrasi yang bersih dan efisien, Wamenhaj menyebutkan adanya kesepakatan di tingkat pucuk pimpinan Kemenhaj.
"Oleh sebab itu, kita harus mulai budaya baru, buang budaya lama. Budaya baru harus tampil dengan wajah integritas," tambahnya.
โSelain itu, Wamenhaj juga menyentuh aspek empati dan pelayanan kepada masyarakat. Ia mengingatkan seluruh peserta sosialisasi tentang pengorbanan besar yang dilakukan oleh para calon jemaah demi menunaikan rukun Islam kelima.
Menurutnya, yang dilayani oleh Kemenhaj adalah para jemaah haji yang sebagian besar dari mereka bukanlah kalangan mampu. Banyak dari para jemaah tersebut harus menabung puluhan tahun lamanya bahkan tak sedikit yang rela menjual aset berharganya seperti tanah, sawah, maupun kendaraannya.
โ"Yang kita layani adalah jemaah yang sebagian besar jual tanahnya, jual harta bendanya untuk naik haji. Maka dari itu, kita pastikan proses penyelenggaraannya hasan (baik) dan suci," ungkap Wamenhaj.