Artikel Opini

Homoseksualitas Bukan Gangguan Mental, Apakah Berarti Boleh?

Logo

Posted by: Adithya Fahmi Rifanka

02 July 2026 07:39 WIB • 351 view

Homoseksualitas Bukan Gangguan Mental, Apakah Berarti Boleh?
Foto: Image generated by Gemini AI

Belakangan ini, pernyataan BEM Psikologi UI tentang homoseksualitas kembali ramai diperbincangkan. Salah satu poin yang mereka sampaikan adalah bahwa homoseksualitas bukan merupakan gangguan mental menurut psikologi kontemporer.


Kalau pernyataan itu dipahami sebatas menjelaskan klasifikasi dalam psikologi, saya kira tidak ada masalah. Psikologi memang sedang menjelaskan bagaimana suatu kondisi dipahami berdasarkan paradigma dan kriteria yang berlaku saat ini. Pada titik itu, psikologi sedang berbicara tentang fakta, bukan tentang benar atau salah. Masalahnya muncul ketika pernyataan tersebut kemudian dipakai untuk menyimpulkan bahwa homoseksualitas berarti boleh, wajar, dan tidak bermasalah secara moral. Di sinilah letak kekeliruannya.


Fakta bahwa homoseksualitas tidak lagi diklasifikasikan sebagai gangguan mental tidak otomatis membuktikan bahwa homoseksualitas dibenarkan secara moral. Menjelaskan suatu kondisi dari sudut pandang psikologi tidak sama dengan memberikan penilaian moral terhadap kondisi tersebut.


Ironisnya, lompatan logika ini sering diikuti oleh lompatan berikutnya. Siapa pun yang menolak homoseksualitas kemudian dianggap sedang menolak konsensus psikologi, anti-ilmu pengetahuan, atau anti-sains. Padahal, keduanya adalah persoalan yang berbeda. Seseorang bisa menerima klasifikasi psikologi sebagai sebuah fakta ilmiah, tetapi tetap menolak kesimpulan moral yang ditarik dari fakta tersebut. Karena itu, mengatakan bahwa homoseksualitas boleh hanya karena bukan gangguan mental merupakan lompatan logika yang tidak dapat dibenarkan.


Di sisi lain, selama ini kita juga sering mendengar klaim bahwa ilmu pengetahuan bersifat bebas nilai. Jika memang demikian, maka klasifikasi psikologi tidak boleh dijadikan dasar untuk menetapkan bahwa homoseksualitas boleh secara moral. Sebaliknya, jika klasifikasi tersebut memang dimaksudkan untuk melegitimasi penilaian moral, maka berhentilah mengklaim bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai. Tidak mungkin kedua posisi itu dipertahankan secara bersamaan.


Pada akhirnya, persoalan yang sesungguhnya bukanlah apakah homoseksualitas termasuk gangguan mental atau tidak. Persoalannya adalah ketika sebuah fakta ilmiah dijadikan legitimasi untuk menetapkan benar dan salah secara moral. Di situlah letak kekeliruan logikanya.

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!